Surat Cinta dari Ujung Desa: Sebuah Harapan Kepastian untuk Sang Menteri


Kepada Yang Terhormat Bapak Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) di Tempat


Yth. Bapak Menteri Desa,

Perkenankan kami, yang sehari-hari menjadi ‘mata dan tangan’ Bapak di ujung-ujung desa Nusantara, mengirimkan surat ini. Kami bukanlah pejabat tinggi, bukan pula birokrat di balik meja megah, melainkan Pendamping Desa (PD) yang berjuang setiap hari di pelosok, memastikan program-program Bapak menyentuh langsung denyut nadi masyarakat. Kami, yang sudah hampir satu dekade menjadi saksi bisu pembangunan desa, menjuluki surat ini sebagai “Surat Cinta dari Ujung Desa.”

Surat ini lahir dari sebuah rasa, sebuah kegundahan kolektif yang menghantui ribuan Pendamping Desa di seluruh Indonesia setiap tahun, seiring jarum jam mendekati angka dua belas di kalender Desember. Kegundahan itu bernama ketidakpastian kontrak.

Bapak Menteri yang kami hormati,

Bayangkanlah, hampir sepuluh tahun kami mengabdi. Kami telah menemani desa merancang RKPDes, membangun embung, mengelola Bumdes, hingga kini berjuang bersama melawan kemiskinan ekstrem dan stunting. Kami menyaksikan kelahiran dan pertumbuhan anak-anak desa, menyaksikan perubahan status desa dari sangat tertinggal menjadi berkembang. Tugas kami tak mengenal jam kantor. Kami loyal tanpa batas, tak peduli siapa yang memimpin kementerian, tak peduli siapa yang duduk di kursi Bapak. Loyalitas kami sempurna, tegak lurus pada cita-cita Undang-Undang Desa.

Namun, loyalitas dan pengabdian sembilan hingga sepuluh tahun itu selalu dibayar dengan satu hal yang tak pernah hilang: perasaan was-was dan gundah gulana setiap akhir tahun.

Ketika aroma Natal dan Tahun Baru mulai tercium, saatnya masyarakat lain sibuk merencanakan liburan dan evaluasi akhir tahun, kami justru diselimuti awan kelabu. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali menusuk:

“Apakah Surat Perjanjian Kerja (SPK) saya akan diperpanjang?” “Apakah tahun depan saya masih bisa mendampingi desa ini?” “Setelah sekian lama berdedikasi, apakah pengabdian saya akan terhenti hanya karena selembar kertas kontrak?”



Kegundahan yang Menggerus Fokus Kerja

Bapak Menteri yang budiman,

Ketidakpastian ini bukan sekadar masalah administrasi. Ini adalah masalah psikologis yang menggerus fokus dan kualitas kerja kami. Di tengah-tengah kesibukan menyusun laporan akhir tahun, memastikan dana desa terserap maksimal, dan menyelesaikan sisa-sisa program, pikiran kami terbelah. Bagaimana kami bisa fokus merencanakan program tahun depan jika kami tidak yakin apakah kami masih menjadi bagian dari tim ini?

Ketakutan itu nyata. Takut kehilangan pekerjaan yang sudah menjadi passion dan sumber nafkah utama. Takut jika pengalaman dan pengetahuan lapangan yang sudah terakumulasi selama bertahun-tahun harus berakhir sia-sia.

Kami terpaksa menunda rencana-rencana pribadi dan keluarga. Mau mengambil kredit rumah? Ragu. Mau menyekolahkan anak di tempat yang lebih baik? Was-was. Semua terhenti di gerbang Desember. Sebab, bagi Pendamping Desa, Desember adalah bulan penghakiman. Di bulan itu kami mengetahui, apakah kami layak terus berjuang atau harus mencari jalan hidup yang baru.

Kami sadar, status kami adalah Tenaga Pendamping Profesional. Kontrak adalah keniscayaan dalam skema ini. Tetapi, setelah bertahun-tahun mengabdi, bukankah dedikasi ini layak mendapatkan pengakuan dan kepastian yang lebih baik? Bukankah pengalaman kami yang tak ternilai ini harusnya menjadi modal permanen bagi pembangunan desa, bukan aset yang bisa diganti semudah membalik halaman kalender?

Kami tidak menuntut kemewahan, Bapak. Kami hanya berharap Bapak melihat loyalitas kami. Kami tegak berdiri di garis depan, menghadapi dinamika politik lokal, menyelesaikan konflik, hingga memotivasi perangkat desa yang lesu. Kami adalah jembatan yang tak pernah putus antara kebijakan pusat dan realitas di lapangan.





Harapan pada Nahkoda Baru: Menciptakan Kepastian

Bapak Menteri yang baru menjabat,

Kedatangan Bapak membawa harapan baru. Kami percaya Bapak memiliki visi besar untuk desa. Maka dari itu, melalui “Surat Cinta” yang tulus ini, kami menaruh harapan terbesar kami pada kepemimpinan Bapak: Hilangkanlah perasaan was-was di akhir tahun ini.

Berilah kami jaminan dan kepastian kerja yang setara dengan loyalitas yang telah kami berikan. Jadikanlah kami bukan sekadar pegawai kontrak tahunan yang rentan, tetapi sebagai pekerja profesional yang memiliki kepastian karier dan masa depan yang jelas.

Kami mohon, Bapak, tinjau ulang skema kontrak ini. Mungkin melalui:

  1. Kontrak Multi-Tahun: Perjanjian kerja yang berlaku untuk periode 2 atau 3 tahun, sehingga fokus kami tidak terpecah di setiap akhir tahun.

  2. Skema Pengangkatan yang Jelas: Merumuskan jalur karier dan skema kepegawaian yang lebih pasti (misalnya, menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja/PPPK) bagi Pendamping Desa yang telah mengabdi belasan tahun dengan kinerja optimal.

Jika kami mendapatkan kepastian, kami berjanji loyalitas kami akan menjadi sempurna tanpa batas. Kami akan fokus 100% pada pekerjaan lapangan, pada peningkatan kualitas desa, dan pada upaya mensukseskan semua program yang Bapak canangkan. Kami tidak akan lagi terdistraksi oleh kegundahan akhir tahun.

Kami percaya, di tangan Bapak, status Pendamping Desa akan menjadi pekerjaan yang dibanggakan, memiliki jaminan masa depan, dan menjadi magnet bagi putra-putri terbaik bangsa untuk mengabdi di desa.

Terima kasih atas waktu Bapak membaca curahan hati kami. Kami akan terus bekerja, dan kini, kami menunggu kabar baik dari Bapak, kabar yang akan menghapus gundah gulana di ujung tahun.

Salam Hormat dari Garis Depan Pembangunan Desa,

Seluruh Pendamping Desa se-Indonesia (Mewakili Ribuan Hati yang Berharap Kepastian)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTUSIAS WARGA PEDAMARAN V TERHADAP KOPRASI MERAH PUTIH

DESA CINTA JAYA, SEBUAH PERMATA KECIL YANG TERABAIKAN DI KECAMATAN PEDAMARAN, TENGAH BERBENAH DIRI.